Pada masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump bersumpah untuk merombak perekonomian Amerika Serikat. Pokoknya, dia berencana untuk merevitalisasi sektor produksi dalam negeri dan biarkan negara lain ikut merasakan konsekuensinya.
Pada tanggal 2 April 2025, menurut sumber tersebut, CNN , Kamis (31/3), Trump berjanji akan melakukan hal ini Liberation Day Alias Hari Pembebasan. Dia akan meningkatkan tariff terhadap negera-negera yang menerapkan cukai atas produk-produk dari Amerika Serikat.
Kebijakan perdagangan perang yang diterapkan oleh Trump sudah mengakibatkan kerugian sebesar triliunan dolar AS di bursa saham. Indeks Dow Jones jatuh hingga 700 poin minggu lalu. Hal ini semakin mengeraskan ketidakpastian terkait kemungkinan resesi akibat peningkatan tingkat keprihatinan dari para konsumen.
Mendekati batas waktu pada hari Rabu, presiden semakin menggerogoti keyakinan pasar dan konsumen dengan mengumumkan bahwa sejumlah negara atau sektor industri mungkin akan diberikan dispensasi terkait tarif baru tersebut. Kestabilan kepemimpinannya dipertanyakan, serta memiliki potensi untuk menciptakan dampak ekonomi yang signifikan dan merugikan.
- Harga Baru Trump Ganggu Pasar: Indeks Saham Turun, Emas Jadi Alternatif Amannya
- Goldman Sachs Naikkan Kemungkinan AS Alami Resesi, Dampak Kebijakan Tarif Trump
- Trump Berencana Mengurangi Pajak Perdagangan dengan China Selama Bersedia Menjual TikTok
Aspek negatif lainnya adalah peningkatan tariff ini akan menyebabkan harga naik untuk para konsumen di Amerika Serikat yang sudah terbebani dengan biaya hidup yang tinggi saat ini. Hingga saat ini juga belum ada jaminan bahwa perusahan-perusahaan asing tersebut akan memproduksi produk mereka di AS.
“Saya tidak peduli jika mereka menaikkan harga karena orang-orang akan mulai membeli mobil buatan AS,” kata Trump dalam sebuah wawancara telepon dengan NBC News beberapa waktu lalu. “Saya tidak peduli, karena jika harga mobil asing naik, mereka akan membeli mobil Amerika.”
Trump mengabaikan kompleksitas tarif otomotif 25% yang akan berlaku pada minggu ini. Proses manufakturnya terintegrasi dengan pabrik dari Meksiko dan Kanada. Ini berarti sebagian besar mobil yang dibuat di AS akan menjadi lebih mahal.
Biaya produksi yang lebih tinggi dan investasi untuk menempatkan manufaktur di dalam negeri hanya akan membebankan konsumen. Dalam beberapa tahun ke depan, harga mobil diperkirakan akan ribuan dolar AS lebih tinggi dari sekarang, yang berisiko menyebabkan pemutusan hubungan kerja di industri otomotif.
Strategi Menaikkan Tarif ala Trump
Setelah sepuluh minggu menjadi penguasa, Trump meningkatkan produksi di negeri-negeri yang memberlakukan tarif atas ekspor ke Amerika Serikat. Impor dari Kanada dan Meksiko dikenai cukai masuk signifikan. Dia pun menerapkan tarif tinggi pada kendaraan impor, semikonduktor, obat-obatan, hingga minyak berasal dari Venezuela.
Para pemimpin bisnis dan ahli ekonomi cemas terkait ukuran dari strategi perdagangan tersebut. Berdasarkan informasi dari Tax Foundation, langkah yang diambil oleh Trump diperkirakan akan merosotkan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat hingga kira-kira 0,7%, serta berpotensi mencabut kurang lebih setengah juta pekerjaan di negera ini.
"Peningkatan tariff menjadi hantaman berat terhadap mekanisme perdagangan dunia," ungkap Eswar Prasad, seorang profesor kebijakan perdagangan dari Universitas Cornell, seperti dilansir. The Guardian.
Di momen pengambilan sumpah serafik tersebut, sang Presiden Amerika Serikat nomor 47 menyuarakan preferensinya terhadap penerapan bea cukai dan kenaikan pajak bagi entitas luar negeri dibanding menambah bebani pajak pada rakyat sendiri. "Akan saya mulailah reformasi besar-besaran atas mekanisme transaksi dagang kami guna membela tenaga kerja serta masyarakat A.S.," ungkap beliau.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengakui adanya potensi perubahan dalam harga karena tarif yang diberlakukan oleh Trump. "Memperoleh produk dengan harga terjangkau tidak menjadi esensial dari imajinasi Amerika," ungkapnya.
Trump percaya bahwa memberlakukan biaya impor yang lebih tinggi terhadap barang-barang asing akan memotivasi perusahaan multinasional untuk merakit produk mereka di Amerika Serikat. Sejak kembali mengambil jabatan, dia sudah meningkatkan bea cukai bagi barang dari Cina serta menaikkan tarif atas besi baja dan alumunium impor hingga 25 persen.
Menurut catatan dari Tax Foundation, tingkat pajak rata-rata di Amerika Serikat meningkat 2,5%, mencapai angka 8,4% pada tahun 2025. Hal ini merupakan titik tertinggi sejak tahun 1946.
Biaya untuk mengimpor mobil diprediksi bakal menjadi bom berkedip besar bagi pabrikan otomotif luar negeri. Tarif yang ditetapkan bisa sampai 25 persen. Langkah tersebut diyakini dapat menimbulkan balasan, dan para ekspor dari Amerika Serikat mungkin menjadi incarannya.
Trump menyatakan bahwa meningkatnya tariff serta kenaikan biaya secara mendadak di Amerika Serikat dan global hanyalah akan menciptakan "sedikit ketidaknyamanan". Jika pada hari Rabu keluar kebijakan ekstrem seperti yang dia promosikan, maka para pebisnis dan konsumen lah yang bakal merasakan imbas utamanya.






0 komentar:
Posting Komentar
alangkah baiknya diisi karena tulisan anda akan memberi semangat saya