Amoeblog– Keunikan budaya di tanah air ini merata tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke.
Setiap wilayah memiliki warisan budaya tersendiri yang dilestarikan sejak dulu kala.
Pada tiap pojok negri ini, terdapat pesta yang tak hanya menjadi ritual formal, melainkan juga refleksi dari nilai-nilai, sejarah, serta jati diri penduduknya.
Tiap wilayah punya metode uniknya sendiri untuk menyambut hari Lebaran. Mulai dari adat istiadat masak sampai upacara tertentu, pesta Idul Fitri di tanah air kita ini menunjukkan betapa nilai-nilai umum bisa ditampilkan lewat keragaman kebijaksanaan setempat.
Berikut adalah tujuh adat istimewa saat Idul Fitri yang menghidupkan warisan budaya di kepulauname, membuktikan bahwa tiap wilayah punya metode sendiri untuk menyambut atmosfir sukacita dan kemenangan tersebut.
1. Meugang – Aceh
Meugang merupakan suatu adat istiadat di kalangan masyarakat Aceh yang sudah ada semenjak era Kesultanan Aceh Darussalam di abad ke-14 Masehi.
Seiring dengan mendekatnya bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, serta hari raya Idul Adha, warga berdatangan ke pasar guna membeli daging sapi, kambing, ataupun ayam. Setelah dibeli, daging-daging tersebut akan diolah dan disantap bersama-sama dengan anggota keluarga mereka.
Apabila sehari-hari masyarakat Aceh biasanya menikmati ikan dari sungai atau laut, saat perayaan Meugang, hidangan spesial yang dipandang pantas disajikan adalah daging sapi atau kerbau.
Pada masa kesultanan, Meugang dirayakan di istana dengan kehadiran sultan, ulama, dan pejabat kesultanan. Sultan bahkan memerintahkan pembagian daging, pakaian, dan beras kepada fakir miskin sebagai bentuk kepedulian.
Hingga kini, Meugang tetap menjadi momen Istimewa. Bukan hanya sebagai perayaan dalam keluarga, tetapi juga ajang berbagi dengan tetangga dan kaum dhuafa agar semua lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan menyambut hari raya.
2. Ronjok Sayak – Bengkulu
Secara keseluruhan, istilah "Sayak" biasanya mengacu pada kulit kelapa. Oleh karena itu, Ronjok Sayak merupakan sebuah praktik di mana kulit kelapa kering ditumpuk sampai mencapai tinggi sekitar satu meter dan kemudian dibakar.
Ritual ini diyakini telah dilakukan oleh masyarakat Bengkulu selama berabad-abad sebagai bagian dari perayaan Lebaran.
Masyarakat setempat meyakini bahwa api berperan sebagai perantara antara manusia dan leluhur.
Maka, tradisi Ronjok Sayak dilaksanakan dengan penuh khusyuk, didampingi oleh bacaan doa selama proses pembarungan. Umumnya, upacara ini terjadi pada malam tanggal 1 Syawal usai sholat Isya bagi jemaah Muslim.
3. Grebeg Syawal – Yogyakarta
Grebeg Syawal adalah suatu warisan istimewa dari Kraton Yogyakarta yang dirayakan pada tanggal 1 Syawal atau tepatnya hari Idul Fitri. Tradisi ini sudah ada sejak zaman kekhalifahan abad ke-16 dan bertujuan untuk mengekspresikan ucapan terima kasih atas penyelesaian puasa selama bulan Ramadhan.
Karakteristik dari Grebeg Syawal ada di paradaiaran gunungan, yakni pemberian dalam bentuk tumpukan produk pertanian yang mencerminkan kekayaan dan kelimpahan.
Ada tujuh macam gunungan yang dipersiapkan, terdiri dari tiga gunungan untuk lanang atau kakung, satu gunungan untuk wadon atau estri, dan juga masing-masing satu gunungan darat, gepak, serta pawuhan.
Sebelum hari pelaksanaannya, beberapa persiapan dijalankan, seperti Gladhiresik Prajurit dan Numplak Wajik, yang merupakan serangkaian ritual untuk memperingati pembentukan gunungen padi tersebut.
Pada hari tersebut, gunungan ditransportasi oleh para abdi dalem, dengan pengawalan pasukan Bregodo, bergerak dari Alun-Alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke arah Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, serta kantor Kepatihan.
Setelah diupacarai, gunungan kemudian menjadi incaran warga yang percaya bahwa memiliki sebagian dari gunungan memberikan berkat dan nasib baik.
Setelah pengakhiran pembagian gunungan, prosesionis Grebeg Syawal juga usai, yang mengartikan akhir dari perayaan keberhasilan pasca satu bulan bertemu puasa.
4. Pertarungan Topat – Lombok, Nusa Tenggara Barat
Perayaan Perang Topat, yang juga disebut "pesta ketupat," adalah sebuah tradisi tahunan yang menggambarkan harmoni antara komunitas Hindu dan Muslim di Lombok. Acara dimulai dengan melaksanakan sholat bersama lalu dilanjutkan dengan berziarah ke pemakaman leluhur untuk menyatakan rasa hormat mereka.
Selanjutnya, warga berpartisipasi dalam ritual lempar-lemparan ketupat di tengah-tengah atmosfer yang dipenuhi rasa gembira.
Ketupat yang ditempatkan dalam upacara tersebut dianggap membawa berkat serta menggambarkan doa untuk kelimpahan dan kesejahteraan.
Ritual Perang Topat diawali dengan pawai sesajen yang terdiri atas hidangan, buah-buahan, dan produk pertanian yang diserahkan selama perayaan agama tersebut.
Kepercayaan tradisional ini dipengaruhi utamanya oleh komunitas Sasak serta disertai beberapa pemuka agama Hindu yang hadir di Lombok.
Setelah rangkaian pertunjukan usai, acara melanjutkan pada bagian utama peringatan yaitu Pertempuran Topat, yang diadakan ketika kelopak bunga waru mulai jatuh, dikenal juga sebagai rorok kembang waru oleh masyarakat Sasak, sekitar jam 5:30 sore.
Tradisi ini telah diturunkan dari generasi ke generasi dan dimulai usai berakhirnya pendudukan Bali oleh Lombok di masa lalu. Ratusan orang dari komunitas Sasak serta pemeluk agama Hindu berkumpul di Pura Lingsar, memakai pakaian tradisional khas Sasak dan Bali.
5. Tarian Topeng dari Muaro Jambi – Jambi
Di desa Muaro Jambi yang terletak di provinsi Jambi, merayakan Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar acara untuk bersilaturohm dan memperingati hari suci, namun juga menghadirkan hiburan tradisional dengan tarian unik yaitu Tari Topeng Labu.
Tradisi turun-temurun ini menghadirkan para penari yang mengenakan topeng unik berbahan labu manis tua berkulit keras.
Topeng itu didekorasi dengan cat beraneka ragam warna dan dilengkapi dengan bulu_ijuk di puncaknya untuk melambangkan rambut, menghasilkan ciri khas yang unik dan mempesona.
Tarian Topeng Labu tidak hanya merupakan hiburan, melainkan juga memiliki latar belakang historis yang dipercaya telah ada selama beberapa abad.
Menurut legenda yang tersebar di kalangan penduduk Muaro Jambi, asal-usul adat ini bermula dari sebuah kisah tentang seseorang yang mengidap penyakit kurap dan kemudian dikesampingkan ke dalam hutan dikarenakan dianggap membawa nasib buruk.
Saat Idulfitri datang, dia berharap untuk bertemu lagi dengan komunitasnya, namun ia sadar situasi saat itu tak mendukung.
Agar menyembunyikan kondisi dirinya, dia menciptakan masker dari labu, menghiasnya mirip dengan muka manusia, lalu memasang bulu sederhana untuk menjadi rambut.
Menggunakan topeng serta busana sederhana, dia pulang ke desa sambil memikul wadah di punggungnya dan melompat-lompat.
Ciri khas tampilannya malah mendapat perhatian penduduk setempat, terlebih lagi anak-anak yang merasa senang dengan tingkah lakuanya yang gesit.
Warga menyambut kedatangannya dengan sukacita, menghadiahkan makanan, minuman, dan pakaian.
Sejak saat itu, cerita tersebut tetap hidup dan disampaikan melalui Tarian Topeng Labu, yang dipentaskan pada tiap peringatan Idulfitri untuk menggambarkan makna penerimaan, keragaman, serta kecerian.
6. Menyembah Belali - Kepulauan Riau
Nyembah Belari adalah salah satu bagian dari perayaan Idul Fitri yang diikuti oleh para siswa Sekolah Dasar (SD) di Pulau Tambelan, Kecamatan Bintan, Kepulauan Riau.
Nyembah Belari merupakan budaya silaturahmi unik pada hari Lebaran di mana orang-orang akan lari atau jalan cepat dari sebuah rumah ke rumah lainnya.
Acara ini dijalankan bersama-sama dengan membawa tas kecil guna menampung hiasan-hiasan kecil atau uang yang diserahkan oleh penghuni rumah.
Akan tetapi, beda dengan biasanya ketika melakukan kunjungan rumah, para anak yang ikut serta dalam acara Nyembah Belari ini tidak memasuki bagian dalam rumah. Mereka cuma duduk-duduk di teras saja agar tuan rumah tak perlu cemas tentang kerapuhan atau keterserakan barang-barang mereka.
Biasanya, Nyembah Belari dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri. Sesudah melaksanakan ibadah tersebut, anak-anak segera mengawali kebiasaan itu dengan antusiasme yang tinggi, memberi warna ceria pada nuansa hari raya di Tambelan.
7. Festival Meriam Karbit
Tiap kali memasuki malam takbiran mendekati perayaan Idul Fitri, Pontianak, Kalimantan Barat memiliki suatu acara unik bernama Festival Meriam Karbit. Acara yang terjadi dalam waktu tiga hari tersebut dilangsungkan di tepi Sungai Kapuas, menggambarkan semangat kepahlawanan serta persaudaraan warga setempat.
Di luar menjadi bentuk hiburan, kebiasaan ini pun menyimpan nilai sejarah terkait pendirian Kota Pontianak.
Tradisi ini dipercaya bermula pada abad ke-18, saat Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang bangsawan Arab, datang ke Pontianak guna menyebarluaskan agama Islam.
Ketika mencapai daratan di pinggiran Sungai Kapuas, dia melepaskan tembakan dari meriamnya menuju beting (pulau kecil di sungai) untuk mengonfirmasi bahwa tak ada penduduk. Kemudian, dia mendirikan Masjid Jami' serta Kesultanan Kadriah, keduanya merupakan asal-usul Kota Pontianak.
Varian lain mendeskripsikan bahwa penembakan dengan meriam dimaksudkan untuk menyingkirkan roh jin atau terutama kuntilanak, yang dipercaya menggangu selama proses pembersihan hutan menjadi area pertanian di Pontianak. Kata "Pontianak" ini diperkirakan datang dari perkataan 'bunting' dan 'anak', berhubungan erat dengan cerita rakyat tentang kuntilanak.
Awalnya, meriam hanya dibuat dari bambu, tetapi seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai menggunakan pohon pinang, kelapa, atau gelondongan kayu meranti dan mabang dengan berat mencapai 500 kilogram.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengosongkan bagian tengah kayu, melapisinya dengan pelumas agar kedap air, lalu merendamnya di Sungai Kapuas selama beberapa malam untuk menghilangkan rayap.
Setelah itu, kayu diikat kuat dengan rotan, kemudian dicat warna-warni atau dibungkus kain bermotif agar lebih menarik.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan tetapi juga sarana melestarikan sejarah dan memperkuat identitas budaya Pontianak, sekaligus menjadi daya tarik wisata setiap akhir Ramadhan.






0 komentar:
Posting Komentar
alangkah baiknya diisi karena tulisan anda akan memberi semangat saya